Apakah Kamu Pernah Berpikir Apa yang terjadi "Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah"? - Sebuah Review
"Seberapa kenal kamu dengan ibumu?"
Judul : Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah
Sutradara : Kuntz Agus
Pemain : Sha Ine Febriyanti, Eva Celia Latjuba, Amanda Rawles, Nayla D. Purnama, Bucek Depp, Ariyo Wahab
Penulis : Evelyn Afnilia
Genre : Drama Keluarga, Drama Isu Sosial
PH : RAPI Films
Sebenarnya film ini tayang sejak September 2025 di bioskop, tapi saya baru nonton setelah ada di Netflix beberapa bulan yang lalu.
Update terakhir yang bisa didapatkan di internet, jumlah penonton film ini di bioskop mencapai 903,277 penonton.
Sebenarnya waktu itu tergoda mau nonton film ini di netflix, karena trailer di netflix tuch kompor banget. Pas di adegan di awal film, dimana sang ibu, Wulan, yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti sedang menyiram tanaman di depan rumah, kemudian anak pertamanya, Anis, yang diperankan oleh Eva Celia beserta anaknya (cucu bu Wulan) akan berangkat ke sekolah dan menanyakan dimana kunci motor, dan yang ditanya adalah bu Wulannya. Kemudian anak kedua, Alin yang diperankan oleh Amanda Rawles menanyakan kenapa kipas di rumahnya ngadat, masih dilanjut anak ketiga, Asya, yang diperankan Nayla D. Purnama yang menanyakan dimana kaos olahraganya. Seperti yang kamu sudah tebak, sang ibu, yang paling tahu semua jawaban atas pertanyaan anak-anaknya, sambil sekaligus membantu anak-anaknya. Ada lagi yang paling epik, pas Anis mau nyalain motor dan agak ngadat, ya lagi-lagi sang ibu yang berhasil menyelesaikan masalahnya. Padahal di teras rumah, ada sang ayah, Tio, yang diperankan oleh Bucek Depp, yang sedang santai duduk-duduk aza sambil merokok. Dan si Ayah ini tidak sekalipun perhatian membantu istri dan anak-anaknya. Bisa aza, diem-diem cuek gitu, di suasana pagi hari di rumah yang sudah super sibuk itu. Kompor banget kan? bawaannya pengen nabok ayahnya gitu, duh, saking gemesnya.
Tapi bu Wulan itu tuch, super sabar. Dia cuma tarik nafas, dan sambil senyum menjawab sekaligus membantu anak-anaknya. Luar biasa super sekali!
Film ini bermula dari Alin, anak kedua dari bu Wulan dan Pak Tio, awalnya sedang kuliah kedokteran dan harus kos. Namun, karena beasiswanya terancam dicabut, jadi dia memutuskan berhenti kos dan kembali ke rumahnya. Nah, sesampainya di rumah, dia baru sadar menemukan kekacauan di sana.
Official Teasernya bisa dilihat di sini:
Ini juga yang sempat jadi pikiran saya. Namanya manusia ya, kadang godaan setan selalu saja hadir. Terkadang suka berandai-andai, kalau saja, saya menikah dengan si A, yang lebih ganteng, lebih tajir, yang masa depannya terlihat lebih prospektif lah. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, lah kalau saya menikah dengan orang lain, ya anak-anak saya yang sekarang gak mungkin ada dunks ya. Padahal Kay (anak pertama saya) sudah ditakdirkan untuk hadir di dunia ini, dan Ars (anak kedua saya) juga memang ditakdirkan untuk menjelma di tempat fana ini. Dan itu semua bisa terjadi, ya karena saya menikah dengan suami saya yang sekarang.
Seperti dalam hadist berikut ini:
"Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah engkau mengatakan, 'Seandainya aku melakukan ini dan itu, pasti hasilnya akan lain'. Tetapi katakanlah 'Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi'. Karena perkataan 'Seandainya' dapat membuka pintu bagi setan." (HR. Muslim)
Film ini benar-benar menguras emosi. Akting pemain-pemainnya T.O.P B.G.T. Ceritanya relate dengan banyak orang.
Meninggalkan kesan yang dalam dan mempertanyakan "seberapa kenal kamu dengan ibumu? dengan masa lalunya juga mimpi-mimpinya".
Menunjukkan kekuatan cinta yang rumit, antara ibu dan anak perempuannya.
Memaksamu melihat kembali apa arti sebuah keluarga.
Apalagi diiringi dengan soundtrack yang sendu:
Kalau kamu masih punya ibu, coba ajak ngobrol ibumu. Minta dia bercerita tentang masa lalunya serta mimpi-mimpinya.
Kalau ibumu sudah kembali keharibaan Tuhan Yang Maha Esa, kirimkan do'a dan Al-Fatihah kepadanya. Agar Tuhan memeluknya, mengampuninya, mengapuskan segala dosanya serta memberikan tempat yang terbaik di sisi-Nya, Aamiin...
"Ibu terlalu banyak menyimpan luka, sampai lupa caranya bahagia"



