Review Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

 

Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki

"Salah satu cara untuk membuat diriku merasa bebas adalah dengan menunjukkan sisi gelapku. Aku ingin orang-orang yang berharga bagiku mengetahui kalau sisi gelap itu juga merupakan bagian dari diriku."


Judul            : I want to die but i want to eat tteokpokki

Pengarang    : Baek Se Hee

Penerbit        : Penerbit Haru (PT. Haru Media Sejahtera)

Tahun terbit  : 2018

Cetakan        : Cetakan ketiga puluh satu, Februari 2026

Jumlah Hal.   :232 halaman


Buku ini menurut penulisnya, Baek Se Hee, adalah buku yang memuat catatan pengobatannya yang mengidap distimia atau gangguan distimik (berbeda dengan gangguan depresi mayor yang menunjukkan gejala depresi berat, distimia adalah kondisi di mana penderitanya mengalami depresi ringan yang berkepanjangan dan terus-menerus). Meskipun buku ini dipenuhi dengan cerita yang bersifat pribadi dan terkesan suram, buku ini tidak hanya menunjukkan perasaan yang gelap, melainkan menemukan penyebab yang mendasar melalui situasi yang spesifik, dan berfokus pada cerita yang bergerak ke arah kehidupan yang lebih sehat. 

Baek Se Hee, sang penulis, lahir di Seoul, tahun 1990. Setelah lulus kuliah dari jurusan sastra, ia bekerja selama 5 tahun pada sebuah penerbit. Selama lebih dari 10 tahun, ia mengidap distimia (depresi berkepanjangan) dan gangguan kecemasan. Setelah mengunjungi berbagai psikolog dan psikiater, akhirnya tahun 2017, ia menemukan rumah sakit yang cocok dan kini sedang menjalani pengobatan, baik dengan menggunakan obat maupun dengan metode konsultasi. Makanan yang paling ia sukai untuk dinikmati saat membaca buku dan menulis cerita adalah tteokpokki

Baek Se Hee mengatakan meskipun dia sedang sangat sedih dan ingin menangis, namun dia bisa tertawa mendengar lelucon yang disampaikan temannya. Namun, di sudut hatinya, dia merasakan sebuah kekosongan. Lucunya, meski dia merasakan kekosongan di hatinya, dia tetap makan tteokpokki karena merasa lapar. Perasaan yang dia rasakan itu menurutnya adalah sebuah perasaan yang ambigu. Tidak merasa sedih, tidak pula merasa bahagia. Baek Se Hee mengatakan bahwa awalnya dia merasa cukup menderita karena tidak mengetahui bahwa perasaan-perasaan seperti itu bisa dia rasakan sekaligus pada waktu bersamaan. 

Ada kata-kata yang disukai Baek Se Hee sekaligus bisa dia pahami dengan baik, mengenai perasaan-perasan itu:

"Jika ingin menjadi bahagia, tidak boleh takut pada fakta yang akan aku sebutkan ini, melainkan harus menghadapi dan menerimanya dengan lapang dada. Aku bicara soal fakta yaitu selalu ada alasan yang membuat kita tidak bahagia dan tidak beruntung. Selalu ada alasan bagi kesedihan, derita, dan ketakutan yang kita rasakan. Kita tidak bisa memisahkan perasaan-perasaan seperti itu dalam hidup kita." 

- A Perfect Day (Martin Page) - 


Buku versi bahasa Indonesia ini dibuka dengan pengantar dari dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, seorang dokter spesialis kesehatan jiwa dari Rumah Sakit Siloam Bogor. dr. Jiemi menjelaskan mengenai depresi, distimia serta cara berpikir orang-orang yang hidup dalam depresi dan distimia. 

Menurut dr. Jiemi, depresi adalah sebuah gangguan mood yang menyebabkan perasaan depresif dan kehilangan kesenangan secara persisten. Gangguan depresi ini memengaruhi bagaimana kita merasa, berpikir dan bertindak yang dapat mengakibatkan berbagai masalah emosional dan fisik. Sedangkan distimia (persistent depressive disorder) adalah bentuk kronis (jangka panjang) dari depresi. Seseorang dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan, produktivitas berkurang, harga diri yang rendah dan perasaan tidak layak. Distimia berbeda dalam derajatnya serta durasi waktunya yang sangat lama. 

Cara berpikir orang yang hidup dalam depresi dan distimia ada 8:

  1. Black & white thinking, cenderung melihat segala sesuatu 100% hitam dan 100% putih, tidak ada abu-abu dan warna lain, sehingga cenderung berpikir terpolarisasi
  2. Personalization, menganggap bahwa segala sesuatu itu terjadi karena kesalahannya. Teman menjauh karena kesalahan saya, bahkan gempa bumi dan tsunami terjadi juga karena kesalahan saya
  3. Fortune Telling, cenderung membayangkan masa depan, tapi dalam bayangan yang buruk. Masa depan saya pasti akan sia-sia. Di masa depan saya bukan siapa-siapa.
  4. Mind Reading, seakan bisa membayangkan isi pikiran orang lain. 
  5. Emotional Reasoning, cenderung menggunakan emosinya sebagai landasan berpikir
  6. Disqualifying the Positive, segala peristiwa yang masuk dipersepsikan dengan sudut pandang yang negatif. Kalau ada peristiwa yang positif yang kita alami, maka akan diartikan kembali sebagai sesuatu yang buruk
  7. Ambivalensi, pikiran yang saling berkontradiksi yang keduanya sama-sama dirasakan. Bisa saja ingin mengakhiri hidup dan di saat yang bersamaan juga ingin hidup
Baek Se Hee juga memberikan pengantarnya. Sisanya adalah catatan serta rekaman pembicaraannya dengan psikiaternya. Berisi dialog-dialog antara Baek Se Hee dengan psikiaternya. Ada beberapa kalimat-kalimat yang dihighlight yang merupakan catatan penting dari percakapannya. 

Di bagian akhir juga ada kalimat penutup dari ahli psikologi atau terapisnya, yang masih mengingat awal penulis meminta persetujuannya untuk menyalakan alat perekam untuk pertama kalinya. Sekaligus meminta persetujuan untuk merekam selama proses pengobatan berlangsung. Yang pada akhirnya, dari rekaman inilah, buku ini kemudian diterbitkan, karena berisi percakapan selama proses pengobatan sang penulis. Menurut sang terapis, buku ini adalah catatan percakapan antara seorang pasien yang tidak sempurna yang bertemu dengan seorang terapis yang tidak sempurna juga. 

Setelah itu, ada juga tambahan dari penulis mengenai efek positif dari depresi. Total ada 17 cerita tambahan yang menurut penulis merupakan efek positif dari depresi yang dirasakannya. 

Menurut saya, buku ini bagus, karena banyak memberikan pemahaman dan pengertian kepada kita, pembacanya, mengenai istilah-istilah kesehatan jiwa. Kita bisa belajar banyak mengenai hal itu. Selain itu, kita juga jadi bisa menyelami perasaan serta pikiran dari orang yang sedang mengalami depresi dan juga distimia. Namun, kekurangan dari buku ini menurut saya, ya terjemahannya. Saya selalu kurang nyaman membaca buku terjemahan, tetap terasa kaku menurut saya. Selain itu, kadang agak bosan juga membaca percakapan antara penulis dan psikiaternya yang terkadang banyak mengulang serta penulis seperti ingin memvalidasi perasaannya dari sang psikiater. Walaupun kemudian psikiaternya akan menjelaskan kembali. Plus mungkin sedikit perbedaan budaya antara Korea dan Indonesia. Tapi overall, kalau kamu ingin belajar lebih memahami mengenai depresi dan distimia, buku ini bisa jadi pilihan bacaanmu. 

Saya pun, tanpa sadar, membeli dan membaca buku terkait mental health seperti ini. Ya maklumlah, calon psikolog yang gak jadi, wk..wk..jadi tertarik bacaan dan hal-hal terkait manusia dan juga mental health. Selain itu karena ada tteokpokkinya, wk..wk.. Saya pertama makan tteokpokki langsung di Korea Selatan tuch lezat dan super pedas tapi nikmat. Makanya jadi kangen makan tteokpokki lagi langsung di Korea Selatannya 😀.

Terakhir, saya ingin sampaikan pesan dari psikiaternya Baek He See: 

"Meskipun kita merasa seperti ingin mati, kadang hati kita berbisik dan kita pun merasa ingin makan tteokpokki"


 


#KLIP2026
#IbuProfesional
#KelasLiterasi
#KonsistenMenulis
#Hari88