Bandara Supadio Pontianak
"There is always first time for everything"
Bahkan setelah puluhan tahun hidup, akan tetap selalu ada kali pertama dalam hidup. Saya memang sudah bepergian sedari kecil. Beberapa momen "first time" yang saya ingat:
1. Pertama kali keluar pulau Jawa adalah ke Lampung, waktu itu ada kegiatan organisasi kampus di sana. Ini sekitar tahun 2000-2001-an gitu
2. Pertama kali naik pesawat itu tahun 2004, ke Makasar, Sulawesi Selatan. Sebenarnya tujuan mau ke Kendari, tapi dari Makasar kita jalan darat dan laut sampai ke Kendari
3. Pertama kali ke Luar Negeri tahun 2004, ke Eropa (Belanda, Croatia, Italia, Belgia, Perancis), ini waktu ada kegiatan World Congress dari organisasi kampus
Nah, kali ini, saya mau cerita pengalaman pertama kali menginjakkan kaki di Borneo Island a.k.a Pulau Kalimantan. Pulau besar yang belum pernah saya kunjungi memang tinggal Kalimantan dan Papua. Tahun 2026 ini kesampaian menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Kalimantan, InsyaAllah soon akan menginjakkan kaki di Papua ya, Aamiin...
Perjalanan pertama kali saya ke Pulau Kalimantan tujuan sebenarnya adalah ke Air Upas, sebuah kecamatan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Untuk menuju ke sana, sebenarnya ada 2 alternatif jalan:
1. Via Pontianak, lanjut ke Ketapang, lanjut jalan darat sekitar 5 jam
2. Via Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah lanjut jalan darat sekitar 4 jam
Tapi, dari jadwal keberangkatan, tidak ada jadwal pesawat terbang ke Pangkalan Bun. Kami sudah disarankan lewat Pangkalan Bun, karena jarak tempuh lebih dekat, jalannya juga lebih bagus, dibanding kalau lewat Ketapang. Karena tidak ada jadwal pesawat ke Pangkalan Bun, terpaksa lah kami mengambil jalur pertama via Pontianak. Pesawat Jakarta - Pontianak sekitar 1,5 jam. Jadi pertama kali menginjakan kaki di Pulau Kalimantan ya di Pontianak ini, walaupun cuma transit di bandaranya saja 😀. Nama bandara di Pontianak adalah bandara Supadio.
Dari Pontianak, masih lanjut naik pesawat lagi, namun pesawat kecil, yaitu pesawat ATR. Perjalanan sekitar 30 menit. Perjalanan 30 menit tapi seperti dalam sauna 😰, panas luar biasa. Sepertinya AC pesawatnya tidak berfungsi atau karena memang suhu luarnya yang sangat panas.
Bandara Rahadi Oesman Ketapang
Akhirnya perjalanan sauna kita sampai juga di Bandara Rahadi Oesman Ketapang. Cobaan ternyata masih berlanjut, panasnya tetap ikut dunks. Di Ketapang ternyata super panas. Panas dan gerah serta berdebu. Selama di pesawat Pontianak-Ketapang juga tidak terlihat hutan Kalimantan yang dulu jadi kebanggaan Indonesia yang berfungsi sebagai paru-paru dunia. Yang ada hanya hamparan kebun sawit sejauh mata memandang. Mengsedih 😢.
Menurut Forest Watch Indonesia, dalam periode 2000-2017, Indonesia telah kehilangan hutan sekitar 23 juta hektare. Laju deforestasi di Indonesia pada 2000-2009 sebesar 1,4 juta hektare per tahun. Pulau Kalimantan menjadi wilayah yang menjadi penyumbang terbesar kehilangan hutan di Indonesia.
Satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto ditandai dengan meningkatnya jumlah deforestasi di Indonesia. Riset dari lembaga Auriga Nusantara mencatat 433.751 hektare hutan gundul sepanjang 2025. Angka ini hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Luas penebangan hutan itu setara dengan enam kali luas negara Singapura atau hampir tujuh kali luas wilayah DKI Jakarta.
Ketua Yayasan Auriga Nusantara, Timer Manurung, berkata deforestasi dipicu oleh rangkaian kebijakan pemerintah, dari ijin konsensi tambang, perkebunan sawit, kayu, hingga program strategis nasional (PSN) seperti lumbung pangan (food estate).
"Deforestasi terjadi secara terencana (planned deforestation), lewat program-program pemerintah. Itu menggambarkan ketidakpedulian pemerintah Prabowo pada lingkungan", kata Timer kepada wartawan BBC News Indonesia.
Sedih kan? Begitulah.
Lanjut perjalanan saya. Penderitaan suhu panas udara masih berlanjut, ditambah lagi, perjalanan kita belum selesai. Masih akan dilanjutkan perjalanan darat kurang lebih 5 jam. Penderitaan ditambah, mobil sewaan kita ternyata butut. ACnya juga tidak berfungsi, hanya tinggal angin saja, tanpa freon. Penderitaan lain lagi, perjalanan darat ini jangan dibayangkan seperti di Jawa yang mulus. Perjalanan 5 jam itu dengan jalanan jelek, berlubang, tidak beraspal, dan berdebu.
Gambaran perjalanan ini bisa dilihat di video ini:
Jalanan berdebu
Kata teman saya yang orang Kalimantan, menyebut jalanan tersebut dengan sebutan "Paris Dakkar"-nya Kalimantan.
Selain itu kita juga melewati jalanan kebun-kebun kelapa sawit.
Jalanan Sawit
Itu jalanan sawit yang kering. Ada juga jalanan sawit versi "basah"nya.
Jalanan basah sawit
Luar biasa bukan?
Setelah perjalanan panjang yang tidak nyaman selama 5 jam, akhirnya kami menginjakkan kaki juga di Air Upas. Kami tinggal di salah satu hotel alias losmen yang paling terkenal di Air Upas. Namanya Losmen Bahagia.
Losmen Bahagia
Di sinilah saya menghabiskan waktu selama 2 minggu di Air Upas.
Cerita eksplor Pulau Kalimantan masih akan berlanjut di postingan berikutnya.
Coba bagikan pengalaman "pertama kali" kalian juga ya.
Referensi:
1. https://fwi.or.id/hutan-papua-dan-kalimantan-alami-deforestasi-yang-tinggi/
2. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cy01ywe19xdo
#KLIP2026
#IbuProfesional
#KelasLiterasi
#KonsistenMenulis
#Hari79