"Manusia tidak memiliki kuasa untuk memiliki apapun yang dia mau, tetapi dia memiliki kuasa untuk tidak mengingini apa yang belum dia miliki, dan dengan gembira memaksimalkan apa yang dia terima" - Seneca
Judul : Filosofi Teras
Pengarang : Henry Manampiring
Tahun Terbit : 2018
Cetakan : Cetakan ke-75, Januari 2025
Jumlah hal : 324
Buku ini sudah lama menjadi wishlish book saya. Namun, baru sempat membacanya, itupun hasil meminjam di perpustakaan Jakarta Selatan. Kenapa tidak mau membeli? bukan tidak mau seh, masalahnya sudah banyak juga daftar buku yang mau dibeli, wk..wk..Dan sudah beberapa tahun belakangan, untuk mengurangi tumpukan buku, terutama buku-buku yang belum sempat dibaca, saya membatasi membeli buku baru. Tidak boleh beli buku baru, kalau masih ada buku yang belum selesai dibaca. Jadi lah buku Filosofi Teras ini baru sempat saya baca. Setelah dipinjam dari perpustakaanpun, butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikannya, sekitar 1 bulan. Sampai-sampai akun perpusatakaan Jakarta saya sempat ter-suspend, karena lupa memperpanjang masa pinjamnya.
Membaca judul bukunya "Filosofi Teras" sebenarnya cukup membuat saya jadi bertanya-tanya. Jenis filosofi apa lagi ini? karena kan kebetulan saya sudah pernah membaca bukunya Jostein Gaarder yang Dunia Sophie. Dalam buku itu, Gaarder sudah mengajari pembacanya, termasuk saya mengenai jenis-jenis filsafat di dunia. Nah, pas baca judul buku Filosofi Teras, jadi bertanya, filosofi apa ini? ternyata setelah membaca, barulah ketahuan apa itu Filosofi Teras.
Di bab 2 buku ini, sang penulis sudah menjelaskan dengan runtut, kenapa beliau memberi judul buku ini Filosofi Teras.
Ini bermula dari seorang pedagang kaya dari Siprus bernama Zeno yang belajar dari berbagai filsuf yang berbeda. Kemudian dia pun mengejar filosofinya sendiri dimana dia senang mengajar di sebuah teras berpilar, yang dalam bahasa Yunani disebut stoa. Sejak itu, pengikutnya disebut "kaum stoa" dan filsafatnya sendiri disebut Stoisisme. Nah, dalam penulisan buku ini, sang penulis sering menemukan orang agak kesulitan menyebut "Stoisisme", sehingga untuk memudahkan, dibuatlah judul bukunya menjadi Filosofi Teras, dimana teras merupakan terjemahan langsung dari stoa.
Penulis mempelajari stoisisme bermula dari diagnosis dari psikolog yang mengatakan bahwa penulis menderita Major Depressive Disorder. Tanpa disangka-sangka, jalan hidup sang penulis membawa ke sebuah alternatif solusi yaitu setelah membaca buku "How To Be a Stoic" karya Massimo Pigliucci. Buku ini seperti terapi obat bagi penulis yang mana bisa dipraktikkan seumur hidup.
Penulisan buku ini juga dimulai dengan membuat sebuah survey kepada netizen yang berjudul "Survey Khawatir Nasional" yang dilakukan bulan November 2017 dengan responden total 3,634 dan komposisi respondennya 70% adalah perempuan. Hasil besarnya sekitar 63% dari responden mengaku merasa "lumayan khawatir/sangat khawatir" ketika ditanyakan mengenai tingkat kekhawatiran tentang hidup secara keseluruhan.
Beberapa prinsip dari Filosofi Teras:
1. Hidup Selaras dengan Alam. Filosofi Teras percaya bahwa segala sesuatu di alam ini saling terkait (interconnected) termasuk segala peristiwa dalam hidup kita. Sehingga melawan atau mengingkari apa yang telah terjadi artinya keluar dari keselarasan dengan alam
2. Dikotomi kendali. Dalam hidup, ada hal-hal yang ada di bawah kendali kita dan ada yang tidak di bawah kendali kita. Yang tidak di bawah kendali kita: kekayaan, reputasi, kesehatan dan opini orang lain. Sedangkan yang ada di bawah kendali kita adalah: pikiran, opini, persepsi dan tindakan kita sendiri. Dikotomi kendali bukan berarti pasrah pada nasib.
3. Mengendalikan interpretasi dan persepsi. Saat kita mengalami peristiwa hidup, seringkali ada penilaian otomatis yang muncul, dan jika tidak rasional, penilaian otomatis ini memicu emosi negatif. Kita memiliki kemampuan untuk tidak menuruti penilaian/value judgement otomatis tersebut. Kita mampu menganalisis peristiwa/objek dengan rasional, untuk memisahkan antara fakta objektif dari penilaian/opini subjektif kita. Langkahnya adalah dengan melakukan S-T-A-R yaitu Stop, Think & Assess dan Respond.
4. Memperkuat mental. Premeditatio Malorum adalah teknik memperkuat mental dengan membayangkan semua kejadian buruk yang mungkin terjadi dalam hidup kita. Manfaatnya adalah membantu kita mengantisipasi peristiwa buruk jika terjadi, dan tidak terlalu terkejut jika benar-benar terjadi. Karena kekhawatiran dan kecemasan kita lebih banyak yang akhirnya tidak terjadi.
"Orang yang benar-benar kaya adalah dia yang merasakan cukup. Orang yang benar-benar miskin adalah dia yang masih mengingini lebih"
5. Hidup di antara orang yang menyebalkan. Di balik perilaku menyebalkan orang lain, kemungkinan besar tidak ada motivasi/niatan jahat, tetapi ketidaktahuan/ignorance. Tidak ada yang bisa merendahkan jiwa kita. Kemarahan kita jauh lebih merusak daripada penyebab kemarahan itu sendiri
6. Menghadapi kesusahan dan musibah. Filsuf stoa melihat semua kesusahan sebagai kesempatan untuk melatih keutamaan (virtue). Saat kira tertimpa kesusahan, kita bisa memikirkan keutamaan apa yang bisa dilatih dari keadaan ini.
7. Menjadi orangtua. Parenting is all about letting go. Parenting adalah bisa melepaskan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol dan fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol.
"Jangan tuntut anak menjadi sempurna, karena kamu juga bukan orangtua yang sempurna"
8. Citizen of the World. Kita semua adalah "kosmopolit", warga dunia. Kita semua berasal dari akar yang sama, tidak ada alasan untuk membeda-bedakan suku, agama, ras, kebangsaan untuk bisa bersikap manusiawi.
9. Tentang kematian. Hidup bukan soal panjangnya, tetapi soal kualitasnya.
Buku ini lumayan lengkap. Di awal ada kata pengantar dari A. Setyo Wibowo, seorang Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Di beberapa bab juga ada wawancara dengan beberapa tokoh, seperti di bawah ini:
1. dr. Andri, Sp.KJ., FAPM, seorang dokter spesialis kejiwaan;
2. Wiwit Puspitasari, seorang psikiater, spesialis pengobatan psikosomatis.
3. Llia @salsabeela, seorang pengusaha media perempuan sukses
4. Cania Citta Irlanie, seorang Editor Geolive dan Geotimes
5. Agstried Piethers, seorang Psikolog Anak dan Pendidikan
Selain itu, karena buku ini sudah cetakan ke-75, ada catatan tambahan dari penulis mengenai pandemi dan juga tahun politik.
Buku ini juga bukan sekedar buku teori, tapi juga berharap pembacanya dapat mulai mempraktikkan Filosofi Teras dalam kehidupan sehari-harinya.
Filsafat Teras memang konstektual bisa diterapkan dalam setiap peristiwa hidup yang kita lalui.
Saya merasa buku ini seperti buku panduan, yang kalau kita menemukan satu masalah hidup, kita bisa baca kembali buku ini untuk bisa merespon dengan baik. Isinya lengkap banget, apalagi ditambah ilustrasi-ilustrasi menarik dari Levina Lesmana, juga banyak tersebar quote-quote penting dari Filsafat Teras.
Satu kelemahan menurut saya, ada pemilihan tokoh wawancara yang ternyata kontroversial, yang memiliki pandangan "unik" yang berbeda dari kebanyakan orang Indonesia. Well, mungkin dari sini, saya juga harus mulai untuk belajar mempraktikkan Filosofi Teras secara langsung bagaimana menghadapi orang yang menurut kita menyebalkan.
Keren banget kan buku Filosofi Teras ini. Bahkan untuk menulis reviewnya pun, saya "dipaksa" untuk langsung praktik implementasi Filosofi Teras.
Menurut saya worth it banget kamu untuk baca dan punya buku ini. Apalagi jika tertarik dengan filsafat, khususnya filsafat stosisme. Terlebih lagi, kalau kamu ingin langsung praktik. Filsafat Teras bukanlah filsafat yang selesai jika sudah dibaca. Kamu mungkin juga akan tertarik untuk belajar lebih dalam mengenai filsafat stoisisme ini.
"If you live according to what others think, you will never be rich" - Seneca (Letters)




