Ibu yang Tetap Berpikir Kritis: Kenapa Ilmu Nggak Berhenti di Ruang Domestik
Kolaborasi
@komunitas_ibupunyamimpi x @official.frasa
Coba
ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu dengar seorang ibu bilang, “otakku udah
nggak setajam dulu”? Atau mungkin kamu sendiri yang pernah mengucapkannya,
sambil setengah bercanda, setengah pasrah.
Ada semacam
kesepakatan tak tertulis di masyarakat kita: begitu perempuan jadi ibu,
dunianya menyusut ke urusan dapur, sumur dan kasur. Rasa masih boleh dihidupkan.
Tapi ilmu? Katanya, itu yang harus dilepaskan lebih dulu.
Pertanyaannya sederhana saja: benarkah begitu? Atau ini cuma cerita yang sudah terlalu sering diulang sampai kita lupa mempertanyakannya?
Mitos “Otak Ibu Menurun”
Istilah mom brain — lupaan, susah fokus, berasa lebih lemot mikir — memang nyata dirasakan oleh banyak ibu baru. Tapi hal yang jarang dibicarakan adalah apa kata penelitian soal ini, dan hasilnya cukup mengejutkan.
Sejumlah tinjauan ilmiah justru menemukan sesuatu yang berbeda dari yang selama ini kita percaya. Ketika kemampuan kognitif ibu hamil dan pascamelahirkan diukur secara objektif, hasilnya sering tidak sejalan dengan keluhan “mom brain” yang mereka rasakan sendiri. Sebagian peneliti bahkan mengusulkan cara pandang baru untuk memahami fenomena ini: bukan penurunan kemampuan berpikir, melainkan penyesuaian kognitif yang sifatnya adaptif. [1]
Salah satu studi bahkan mengukur langsung performa kognitif pada ibu yang mengaku mengalami mom brain, dan tidak menemukan penurunan yang terukur — sekalipun sudah setahun sejak melahirkan. [2]
Lucy Jones, penulis sains di balik buku Matrescence, punya cerita serupa. Awalnya ia mengira kehamilan cuma peristiwa hormonal yang akan selesai begitu bayinya lahir. Tapi riset yang ia telusuri membawanya ke kesimpulan yang jauh berbeda: melahirkan justru mempertajam fokus, bukan menumpulkannya. Perubahan pada struktur otak dan neurokimia yang terjadi diyakini membantu ibu jadi lebih peka membaca kebutuhan bayinya. [3]
Jadi kalau kamu merasa cara berpikirmu berubah sejak jadi ibu, mungkin itu bukan tanda kehilangan sesuatu — tapi tanda otakmu sedang menata ulang prioritas.
Matrescence, Kata yang Mungkin Belum Familiar
Dari riset-riset itu, ada satu istilah yang belakangan makin ramai dibahas di dunia psikologi: matrescence. Sederhananya, ini adalah proses perubahan psikologis, sosial, dan identitas yang dialami perempuan saat menjadi ibu — semacam versi lain dari adolescence, gejolak yang kita kenal dari masa remaja, tapi untuk fase menjadi ibu. [3]
Kenapa penting
punya nama untuk ini? Karena menamai sesuatu sering jadi langkah pertama untuk
berhenti menyalahkan diri sendiri. Alih-alih bertanya “kenapa aku jadi begini,”
kita bisa mulai bertanya hal yang lebih membangun: perubahan macam apa yang
sebenarnya sedang aku alami, dan bagaimana caranya memahaminya lebih dalam?
Ketika Stigma Berubah Jadi Beban
Anggapan bahwa ibu “bukan lagi sosok yang berpikir” bukan cuma omongan yang lewat begitu saja. Dampaknya nyata, dan cukup serius.
Riset menunjukkan bahwa rasa terisolasi serta kehilangan tujuan dan identitas termasuk pemicu utama depresi pada ibu rumah tangga. [4] Secara umum, perempuan diperkirakan punya risiko sekitar dua kali lebih besar mengalami depresi dibanding laki-laki. [5] Di negara berkembang, termasuk Indonesia, angka gangguan kesehatan mental pada ibu tercatat sekitar 15,6% saat hamil, dan naik ke 19,8% setelah melahirkan. [6]
Ironisnya, stigma ini jalan dua arah. Perempuan yang memilih fokus pada karier kerap dianggap kurang peduli keluarga, sementara yang memilih fokus pada rumah tangga dianggap kurang berambisi. [7] Alih-alih membebaskan, kedua label ini sama-sama menekan — dan sama-sama mengabaikan satu hal sederhana: bahwa perempuan berhak terus berkembang, di jalan mana pun yang ia pilih.
Jadi ketika seorang ibu merasa “bodoh” atau “ketinggalan” karena berhenti belajar, itu bukan sekadar soal rasa percaya diri yang turun. Bisa jadi itu akar dari persoalan yang jauh lebih besar.
Ibu-Ibu yang Nggak Mau Berhenti Belajar
Untungnya, tidak semua ibu percaya begitu saja pada narasi lama itu. Salah satu contohnya datang dari komunitas bernama Lab Belajar Ibu (LBI) — yang menariknya, jadi bahan studi kasus di Universitas Indonesia. Komunitas ini didirikan oleh sejumlah perempuan berpendidikan tinggi yang secara sadar memilih menjadi ibu rumah tangga, di tengah anggapan umum bahwa semakin tinggi pendidikan perempuan, semakin kecil kemungkinannya untuk berhenti bekerja.
Alih-alih menyembunyikan latar belakang pendidikannya, mereka justru membangun ruang belajar bersama — bentuk nyata bahwa keputusan untuk fokus mengurus rumah tangga tidak harus berarti berhenti berpikir dan berkembang. [8]
Ini bukan satu-satunya contoh. Makin banyak juga cerita ibu rumah tangga yang tetap kuliah online, ikut kursus sertifikasi, atau aktif di komunitas diskusi sambil momong anak. Alasannya hampir selalu sama: ingin tetap berkembang, dan mengejar hal-hal yang sempat tertunda.
Ini bukan cerita tentang ibu yang jarang tidur demi bisa melakukan segalanya. Ini lebih soal keyakinan sederhana — bahwa peran di rumah dan rasa ingin tahu bisa jalan bareng, tanpa harus saling mengalahkan.
Ilmu dan Rasa Itu Jalan Bareng
Selama ini kita sering menempatkan “ilmu” dan “rasa” di dua kutub berbeda, seolah satu urusan otak dan satu lagi urusan hati. Padahal kenyataannya di lapangan, mengasuh anak menuntut keduanya sekaligus. Memahami tumbuh kembang anak, menyaring informasi kesehatan yang membanjir tiap hari, mendampingi anak di dunia digital yang berubah cepat — semua itu butuh literasi yang terus diasah, bukan cuma insting.
Ibu yang tetap merawat rasa ingin tahunya bukan sedang lalai. Ia sedang memperkuat perannya, dengan cara yang lebih utuh.
Penutup: Ada Ruang untuk Terus Bertanya
Jadi kalau kamu ibu yang diam-diam masih pengin ikut kelas online, membaca buku yang menantang, atau sekadar ngobrol soal hal-hal di luar urusan rumah — itu bukan tanda kamu lalai pada peranmu.
Ilmu tidak pernah benar-benar berhenti di ruang domestik. Ia cuma sedang menunggu ruang untuk terus bertanya.
Ibu, tetaplah berpikir kritis, karena ilmu tidak berhenti di ruang domestik.
Referensi
[1] Ettinger,
S. & Geller, P.A. (2025). Redefining the mom brain narrative: Adaptive
cognitive enhancements during the perinatal period. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40163624/
[2] Orchard,
E.R., Ward, P.G., Egan, G.F., & Jamadar, S.D. (2021). Evidence of
subjective, but not objective, cognitive deficit in new mothers at one-year postpartum.
https://www.biorxiv.org/content/10.1101/2021.06.07.447303.full.pdf
[3] Jones, L.
Matrescence: On the Metamorphosis of Pregnancy, Childbirth and Motherhood
(buku). https://www.lucyjones.co.uk/
[4] Halodoc.id.
Ini Penjelasan Mengapa Ibu Rumah Tangga Lebih Rentan Mengalami Depresi
(mengutip Melinda Paige, Ph.D., Argosy University). https://www.halodoc.com/artikel/ini-penjelasan-mengapa-ibu-rumah-tangga-lebih-rentan-mengalami-depresi
[5] RRI.co.id.
Perempuan dan Depresi: Mengapa Risikonya Lebih Besar? https://rri.co.id/sendawar/kesehatan/858383/perempuan-dan-depresi-mengapa-risikonya-lebih-besar
[6] Jurnal
Riset Kesehatan Nasional. Data prevalensi gangguan psikologis ibu hamil dan
pascapersalinan di negara berkembang. https://ejournal.itekes-bali.ac.id/jrkn/article/download/469/226/2241
[7] KlikDokter.
Mengatasi Stigma Negatif terhadap Perempuan dalam Kesehatan Mental. https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/stigma-negatif-kesehatan-mental-pada-wanita
[8]
Perpustakaan Universitas Indonesia. Komunikasi Identitas Ibu Rumah Tangga
Berpendidikan Tinggi (Studi Kasus Pendiri Lab Belajar Ibu). https://lib.ui.ac.id/detail?id=9999920545890&lokasi=lokal









