• 1
    INSPIRASI
    Semoga semua tulisan, kisah, dan semua yang tertulis di sini menginspirasi anda.! ♡
    Klik di sini
  • 2
    PERJALANAN
    Semua tulisan perjalanan wisata, kuliner, rekreasi dapat anda baca di sini. Silakan klik untuk membacanya lebih lanjut. ♡
    Klik di sini
  • 3
    PENGASUHAN
    Saya membagikan cerita, kisah, atau tips tentang pola pengasuhan anak melalui tulisan-tulisan di rubrik ini. ♡
    Klik di sini
Selamat Datang!
Blog ini merupakan rumah baru saya, tempat di mana saya menuliskan serta mencurahkan isi hati dan kepala saya. Saya menyukai dunia sosial, membaca, menulis serta jalan-jalan berfaedah. Sejak di kampus saya sudah berkeliling Indonesia serta berkesempatan ke luar negeri seperti Eropa (Croatia, Italia, Belanda, Perancis, Belgia) dan Asia (Bangladesh, Korea Selatan dan Thailand). Saya juga tertarik mendalami teknologi dan inovasi, dan pernah menjadi perwakilan Save the Children Indonesia dalam AI Incubator di Bangkok, Thailand.

Silakan klik tautan ini untuk membaca semua tulisan saya. Terimakasih!
Ingin Tahu Lebih Banyak?
Baca Selengkapnya

Baca Ini

Terbaru di Sini

Dunia Na Willa

 

Buku Na Willa

Sehabis lebaran 2026 ini, meluncur film Na Willa. Memang saya sudah dengar dan baca sebelumnya di sosmed kalau buku Na Willa ini akan segera difilmkan.

Jadi ingat kalau saya punya dan sudah baca buku Na Willa ini sudah sejak lama. Di tahun 2020 di MBloc Space Jakarta Selatan saat ada roadshow Patjar Merah. 

Btw, buku Na Willa ini sebenarnya buku 1, ada lagi lanjutannya buku 2: Na Willa dan rumah dalam gang. Di buku 2 cerita soal Na Willa yang harus pindah rumah dari Surabaya ke Jakarta. Untuk review buku 2-nya, InsyaAllah akan di tulisan yang berbeda ya. 

Sejak 17 Jun 2020

Judul Buku  : Na Willa
Penulis        : Reda Gaudiamo
Penerbit      : POST Press
Tahun terbit : 2018
Jumlah Hal. : 106
ISBN          : 978-6-02-603042-9
Harga         : Rp.54,000
 
Buku ini ditulis oleh Reda Gaudiamo. Menurut penulisnya, awalnya cerita ini merupakan lanjutan dari proyeknya bersama putrinya, Soca Sobhita. Kemudian diteruskan menjadi cerita lain dengan tokoh Na Willa. Proses penulisannya pun memakan waktu cukup lama. Dimulai tahun 2005 dan selesai tahun 2009. 

Awalnya sempat diterbitkan dengan sistem crowdfunding di patungan.net. 5 tahun kemudian diterbitkan kembali oleh POST Press. Buku yang saya punya itu merupakan cetakan ketiga dari POST Press di September 2019.   

Untuk gambar di sampul buku dan di beberapa ilustrasi dalam bukunya dibuat oleh Cecilia Hidayat. Seorang ilustrator introvert yang saat ini tinggal di Ubud, Bali bersama suaminya. Cantik-cantik ilustrasinya, sangat pas untuk menggambarkan ceritanya.

Dalam bukunya sendiri terdiri dari 34 cerita. Cerita-cerita ini merupakan catatan Na Willa tentang dunia yang dilihat dari kacamatanya. 

Sebagai orang dewasa, kita diajak melihat dunia dari sudut pandang anak-anak.

Karena buku ini sudah lama saya baca, sejak 2020, untuk membuat review bukunya ini, saya sedikit harus melihat-lihat kembali catatan-catatan Na Willanya. Yang saya ingat memang, gambaran dunia yang dilihat dari seorang anak kecil, yang sederhana dan gak neko-neko.

Na Willa tinggal di daerah Surabaya dan punya teman sepermainan, ada Farida (Ida), Bud dan Dul. Di ujung gang rumah Na Willa ada kereta yang selalu lewat.

Suatu hari, Na Willa diajak Bud dan Dul untuk melihat kereta. Tapi hari itu, Mak Na Willa tidak mengizinkan Na Willa untuk melihat kereta. Na Willa ngambek dan menangis, yang membuat Mak mencubit Na Willa. Tapi tiba-tiba ada suara keramaian dari depan rumah. Mak bertanya pada Lik Warno yang kemudian dijawab bahwa ada yang tertabrak kereta. 

Lalu Na Willa melihat pak Marno yang lewat depan rumahnya, menggendong sesuatu, yang dibungkus daun pisang dengan bercak merah yang ternyata adalah ....kaki!

Mak menjerit sambil tangannya menutupi mata Na Willa, tapi Na Willa tetap berusaha melihat. Di belakang pak Marno ada dua orang yang membopong seseorang yang berteriak keras, "Sikilku! Sikilku! Pak! Sikilku!

Ternyata yang berteriak itu Dul! Na Willa menjerit keras. Mak lalu memeluk Na Willa dengan erat. 

Malam itu, mereka duduk berpelukan di kursi rotan, di ruang tamu. Tidak berbicara apa-apa dan tidak makan malam itu. 

Shock banget pas baca cerita ini. Sedih juga. Perasaan Na Willa juga pasti sedih, shock dan campur aduk. Coba bayangkan teman mainmu, tertabrak kereta dan kakinya putus! Yang lebih shock lagi, awalnya dia mengajakmu main melihat kereta bersamanya. Dan kamu menangis karena tidak dibolehkan ibumu untuk main bersamanya. Tapi pada akhirnya, seperti itulah yang terjadi. Antara mau bersyukur, tapi juga kasihan. Campur aduk kan jadinya perasaannya. 

Ada cerita juga dimana Mak dan Na Willa menjenguk Dul di Rumah Sakit. Dul sudah pakai kaki palsu, sudah bisa berlari-lari, walaupun dimarahi suster rumah sakit. Katanya "Dul itu harus belajar jalan, bukan berlari, karena nanti bisa jatuh dan itu berbahaya". Kaki palsu Dul bisa bunyi dan mereka bisa bernyanyi bersama-sama dengan ketukan musik dari kaki palsu Dul. 

Ada juga cerita tentang radio. Di mana Na Willa penasaran, kenapa ada orang-orang yang selalu omong-omong dan menyanyi di dalamnya. Bahkan Na Willa sampai mau membongkar radionya untuk melihat ada siapa di dalamnya, wk..wk..

Baca cerita bagian ini jadi ingat, ceritaku sendiri waktu aku kecil. Waktu kecil, kami kan menonton televisi. Aku ingat waktu itu ada berita kematian penyanyi Gombloh. Tapi setelah berita kematian itu, di televisi masih ada kulihat dan kudengar Gombloh masih bernyanyi. Koq bisa ya? katanya sudah meninggal, tapi koq masih nyanyi aza di TV? apa itu hantunya yang nyanyi di TV? wk..wk..

Ada juga cerita Na Willa mulai sekolah, mengalami bullying, sehingga Mak memutuskan Na Willa untuk pindah sekolah. Seru sekali soal bullying ini ya. Saya juga ada proyek di sekolah bersama anak-anak. Dan kebanyakan isu yang disampaikan anak adalah soal bullying di sekolah. Sampai akhirnya kami bersama anak-anak itu membuat kampanye anti bullying

Bullying ini masalah serius. Setiap anak memiliki kemungkinan untuk menjadi pelaku atau korban bullying. Makanya kampanye anti bullying di sekolah harus selalu digaungkan. 

Akhirnya Na Willa bersekolah di TK Juwita, dia senang sekali sekolah di sini. Saking semangatnya Na Willa ingin bersekolah di TK Juwita, di hari pertama sekolah, Na Willa bangun jam 3 pagi untuk bersiap-siap lho! 😂 

Na Willa semangat untuk bercerita tentang hari-harinya di TK Juwita ke Mak dan Pak. Cerita tentang buku Ibu Juwita yang belum pernah Na Willa lihat sebelumnya. Buku yang kalau dibuka bermunculan gambar di tengahnya. Dan kalau ditutup, gambarnya hilang, tidur di dalam lipatan buku. Na Willa juga ingin cerita soal teman-teman sekelasnya yang tidak sebanyak di sekolah sebelumnya, dan juga soal tepuk tangan waktu nama Na Willa disebut. 

Sejauh ingatan saya, saya suka membaca buku ini. Sederhana dan mudah dimengerti. Memberikan sudut pandang anak-anak dalam melihat hal-hal keseharian mereka. Membuat kita sebagai orang dewasa untuk bisa mencoba lebih memahami anak-anak. 

Kelebihan buku ini adalah kesederhanaannya. Menceritakan kejadian sehari-hari yang dialami oleh anak-anak. Sedangkan kekurangannya, duh, berhubung saya bekerja di organisasi yang memperjuangkan hak anak, agak sedikit terganggu dengan banyak kekerasan fisik yang dilakukan oleh Mak kepada Na Willa, seperti mencubit, menjewer, memukul pakai sapu. Yah, walaupun maksudnya untuk mendisiplinkan anak. Tapi dari buku ini juga, bisa kita tahu, kalau anak-anak itu juga sebenarnya tidak suka dengan hukuman fisik, ya karena mereka juga merasakan sakitnya. 

Pada akhirnya, kalau dari saya, ratingnya 4 out of 5 dech. Dengan kekurangan tadi itu ya, ini mah subyektif dari saya. 

Tidak sabar nonton filmnya. Lihat bocoran dikit-dikit dari sosmed, visualnya menarik dan penuh warna. Mudah-mudahan sesuai ekspektasi ya. 

Setelah nanti nonton filmnya. Nanti kita review lagi ya.

Kalau kamu, apakah sudah baca buku dan nonton film Na Willa?



#KLIP2026
#IbuProfesional
#KelasLiterasi
#KonsistenMenulis
#Hari45