Buku Leadership X Y Z
"This is more than a book - it's a social and intellectual investment. A shared journey that crosses generations, offering both the art of leading others and the quiet discipline of leading oneself. In a world of full of noise, this book invites readers-especially the young-to listen inward, to meet the only commander and soldier that trully matters: themselves"
Judul : Leadership XYZ
Pengarang : Dedi Wijaya dan Sarah Ardiwinata bersama Anies Baswedan
Penerbit : PT. Simpul Aksara Group
Tahun Terbit : Oktober 2025
Jumlah Hal. : 396
Buku ini merupakan salah satu buku yang lumayan lama saya selesaikan. Dari catatan di bookmory saya, saya mulai baca dari bulan Januari dan baru selesai di bulan April 2026. Tapi bukan berarti selama periode itu saya berhenti membaca ya. Saya selalu menyelingi bacaan saya. Karena buku ini merupakan buku non fiksi, jadi ya diselingi dengan membaca novel. Tapi kayaknya kebanyakan baca novelnya jadinya buku ini kepending terus. Selain itu ya karena bukunya bagus, setiap kalimatnya tuch bagus banget, jadi kan sayang ya kalau dibaca buru-buru, jadi harus pelan-pelan untuk menyerap makna setiap kalimatnya. Alasan lainnya, karena saya hanya bisa membaca buku ini di luar rumah. Kenapa? karena ada perbedaan pandangan politik di rumah, makanya daripada bikin keributan, kita cari aman dan bacanya kalau pas di luar rumah saja.
Okay, sudah cukup dengan alasannya, kita lanjut ke isi bukunya.
Pas buka bukunya, salah satu yang bikin eye-catching ya ada 2 pembatas bukunya.
Pembatas buku
Pembatas bukunya saja sudah menarik ya:
1. Memimpin adalah mendidik, mendidik adalah memimpin
2. Every Story Matters
Iya, bukunya juga bertandatangan dari para penulisnya 😊.
Buku ini memang ditulis oleh 3 orang dari 3 generasi.
- Sarah Ardiwinata, yang mewakili Gen Z melalui gaya narasi yang reflektif, segar dan tetap dengan realitas anak muda
- Dedi Wijaya, mewakili Gen Y yang menjembatani idealisme dan realitas kepemimpinan
- Anies Baswedan, seorang Gen X, yang menghadirkan perspektif kebijaksanaan dan refleksi panjang dari pengalaman kepemimpinan lintas zaman
Buku ini dibagi menjadi beberapa bagian:- Pembuka
- Leadership XYZ
- Self-leadership
- Leading others
- Leading across generation
- Sebuah ruang istimewa
- Penutup
Semuanya dilihat dari 3 perspektif itu ya, Gen XYZ.
Kenapa XYZ? selain karena ingin menghadirkan perspektif kepemimpinan dari 3 generasi yang berbeda, buku ini juga memberikan pemahaman mengenai kepemimpinan itu sendiri.
X = Memimpin diri sendiri
Y = Memimpin orang lain
Z = Memimpin lintas generasi dan perspektif
Pemaparan tentang leadership XYZ dimulai dari sudut pandang ketiga penulis mengenai apa itu leadership XYZ. Kemudian dilanjutkan mengenai self-leadership bagi penulis, baru setelah itu leading others dan leading across generation, tetap dari sudut pandang ketiga penulis.
Selain itu ada bagian khusus yang disebut ruang istimewa yang membahas mengenai kepemimpinan dari seorang tokoh nasional, yaitu Prof. Emil Salim, tapi uniknya, wawancara yang dilakukan tidak langsung ke Prof. Emil Salimnya, melainkan ke orang terdekatnya yaitu anak dan cucunya, karena menurut penulisnya, kepemimpinan yang sejati justru paling jelas terlihat dari cara sebuah nilai diturunkan kepada keluarga.
Kemudian ada juga bagian dari buku yang berisi percakapan meja bundar lintas generasi. Dialog-dialog lintas generasi mengenai kepemimpinan.
Buku ini ditutup dengan catatan penutup dari masing-masing penulis.
Membaca buku ini sama sekali tidak membosankan. Saya lama selesai membaca buku ini, sudah saya berikan alasan di awal tulisan ini ya. Buku ini justru mengalir lancar saat dibaca, tapi dengan banyak catatan penting, karena setiap kalimatnya sangat bermakna. Tulisannya berisi cerita dan pengalaman penulisnya terkait kepemimpinan. Namun ceritanya sangat menarik dan relate dengan saya. Karena ya, saya anak pertama, mewakili generasi Y, dan juga beberapa kali pernah menjabat sebagai pemimpin di beberapa organisasi dan komunitas.
Selain itu, tidak hanya bercerita, di beberapa bagian dalam buku ini, juga berisi refleksi, tips serta worksheet yang bisa kita sebagai pembaca lakukan dan isi sendiri. Buku ini juga berwarna dengan warna dominan putih, hijau dan ungu.
Kekurangan dari buku ini mungkin karena isinya kebanyakan adalah pengalaman dari 3 penulisnya, maka bisa jadi tidak selalu cocok dengan setiap pembaca. Ada banyak motivasi personal dari masing-masing penulis untuk kemudian menjadi titik balik pemahaman mereka mengenai kepemimpinan, yang mana hal ini bisa jadi berbeda bagi masing-masing orang. Namun, menurut saya, tetap saja, kita sebagai pembaca, bisa mencari benang merahnya.
Kesimpulan akhirnya dari ketiga penulis adalah bahwa mereka tidak sampai pada definisi kepemimpinan yang seragam, melainkan pada definisi yang kaya. Sebuah kekayaan perspektif yang lahir murni dari pengalaman, perjalanan hidup yang berbeda, namun diikat oleh satu benang merah yang sama.
X, Y, Z bukan sekedar huruf, ia simbol dari keberagaman, kekayaan dan perjalanan panjang kepemimpinan yang akan selalu menemukan bentuknya di setiap generasi.
"Jadilah nakhoda bagi kapal kita sendiri, sebanyak apapun sumber pembelajaran hidup kita, jemputlah takdir sejarah kita sendiri karena tak ada yang lebih layak memimpin hidup kita selain diri sendiri. Berilah cahaya bagi yang lain, namun pastikan lebih dulu, bahwa kita sendiri tak sedang tersesat dalam gelap"
"Selamat menyusun mozaik kehidupanmu sendiri. Cerita kepemimpinanmu sendiri"
#KLIP2026
#IbuProfesional
#KelasLiterasi
#KonsistenMenulis
#Hari90
Duh gara-gara beda pandangan politik, sampai harus bacanya di luar rumah mba. BTW bukunya keren ditulis oleh tiga orang yang mewakili generasi masing-masing justru semakin memperkaya pemahaman pembaca tentang makna kepemimpinan yang paling sesuai dengan dirinya
BalasHapusIya gpp mba. Lebih baik mencari persamaan daripada meributkan perbedaan. Betul mba, bisa melihat sudut pandang berbeda mengenai makna kepemimpinan. Terima kasih ya mba
HapusSuka sama quote penutupnya..dalem banget maknanya...
BalasHapusBuku ini sepertinya gak cuma cocok cibaca buat seseorang yang mempunyai jabatan pemimpin namun sebagai pribadi pun juga cocok untuk membaca buku ini setidaknya kita bisa melihat POV pemimping dari lintas generasi ini dan mengambil kebaikan dari setiap generasinya
Betul mba. Makna kepemimpinan yang dibahas di buku ini memang bukan hanya kepimpinan karena jabatan, namun yang paling penting adalah menjadi pemimpin bagi diri sendiri. Terima kasih ya mba
HapusUlasannya menyentuh sekali. Ada buku yang selesai dibaca lalu selesai pula pengaruhnya, tetapi ada juga yang meninggalkan ruang untuk merenung lama setelah halaman terakhir ditutup. Buku ini termasuk yang kedua.
BalasHapusUlasannya keren, Mbak...tanpa spoiler, tetapi berhasil bikin penasaran saya ingin baca bukunya....
Sepakat seh mba. Memang ada buku yang dibaca tapi seperti angin lalu. Tapi buku ini memang membekas seh, selain karena memang tertarik dengan temanya, tapi juga cara kepenulisannya tuch yang memotivasi banget.
HapusTiga generasi menuliskannya dalam satu buku wah keren nih. Isinya pasti random antara pemikiran Sarah, Dedi dan Pak Anies
BalasHapusDari berbagai generasi seperti itu saya sepertinya segenerasi sama Dedi deh
Tapi gak tahu kalau soal pandangan ya. Sepertinya gak bakalan banyak beda sih
Berarti kita sepantaran yah mba, generasi Y sama kayak mas Dedi ini :-). Generasi Y ini yang menjadi penghubung komunikasi antara generasi Z dan generasi X
HapusIni benar-benar recomended banget nih untuk semua Generasi agar bisa mengubah pola pemahaman masing-masing unruk memandang generasi masing-masing
BalasHapusBagus ini bukunya , jadi pembaca bisa mendaoatkan insight tentang apa itu leadership dari tiga sudut pandang generasi berbeda. Jadi kalau saya mungkin selevel generasi Pak Anies yaaa...bisa memahami pemikiran pemikirannya. Tapi juga jadi tahu bagaimana pola berpikir dan pendapat generasi di bawahnya. Terus pembatas bukunya juga keren lagi ada 2...mantep banget😊
BalasHapusSejatinya setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri bukan. Menarik mengetahui sudut pandang 3 generasi tentang kepemimpinan, yang tua bisa belajar dari yang muda begitu pula sebaliknya. Sepertinya saat membacanya membutuhkan kelapangan dan keluasan hati
BalasHapusSuka banget karena penulisnya dari perwakilan generasi.
BalasHapusMeans... gaya kepemimpinan seseorang memang terlihat dari siapa yang dipimpinnya yaa..
dan dengan membaca pengalaman langsung dari para pemimpin terbaik yang meluangkan untuk menuliskan pengalamannya di Leadership XYZ, kita bisa mempelajarinya dan mulai mempraktekkannya dari hal-hal sederhana.
Karena "Practice makes perfect".
Suka sekali kalimat di pembatas buku, memimpin adalah mendidik, mendidik adalah memimpin. Pernah nonton acara launchingnya di channel YouTube Pak Anis, tetapi belum pernah baca bukunya. Melihat ulasan ini jadi excited. Terima kasih banyak, Mba.
BalasHapusMbak kalau ketahuan baca di rumah bisa jadi ribut ya? Memang sekarang perbedaan pandangan politik ini bisa bikin perpecahan ya. Daripada ribut mending ngalah baca di luar. Bukunya menarik sih pastinya ini apalagi berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri yang pastinya pernah jadi pemimpin juga
BalasHapusTernyata XYZ ini mewakili generasi, ya. Tiap zaman memang perlu beradaptasi, termasuk gaya kepemimpinan. Tapi ini relate banget sih karena di masa sekarang memang tantangannya memimpin lintas generasi
BalasHapusSaya pikir saya aja mbak yang kalau baca buku tuh lama. Eh maksudnya ada buku-buku tertentu yang butuh waktu lama untuk saya selesaikan. Salah satunya yakni bukunya dr Andreas yang berjudul "Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring", wah itu ada kali setahun saya selesaikan. Cari gara-gara juga sih, beli buku itu seminggu setelah putri ketiga saya berpulang. Ya jadi related aja di setiap tulisannya
BalasHapus